Beranda ArtikelNilai Rapor Tinggi Belum Tentu Cerminkan Kemampuan Siswa, Ini Tantangan Pendidikan Saat Ini
Nilai Rapor Tinggi Belum Tentu Cerminkan Kemampuan Siswa, Ini Tantangan Pendidikan Saat Ini
Artikel

Nilai Rapor Tinggi Belum Tentu Cerminkan Kemampuan Siswa, Ini Tantangan Pendidikan Saat Ini

Di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) calon guru diajarkan berbagai hal.

Redaksi JurnalKita Minggu, 21 Juni 2026 358 dibaca
Nilai Rapor Tinggi Belum Tentu Cerminkan Kemampuan Siswa, Ini Tantangan Pendidikan Saat Ini

Di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) calon guru diajarkan berbagai hal. Dalam kegiatan pembelajaran, teori belajar, psikologi dalam pendidikan, hingga penyusunan perangkat ajar atau administrasi kelas. Namun ada satu hal yang tidak pernah secara resmi diajarkan adalah bagaimana mengubah nilai siswa dari 45 menjadi 80 tanpa terlihat mencolok pada rapor hasil belajar siswa. 

Mungkin kedengarannya seperti lelucon, tapi inilah fenomena yang terjadi di dunia pendidikan. Menjelang pembagian rapor, tidak sedikit guru menghadapi situasi yang dilematis. Hasil evaluasi yang menunjukkan kemampuan siswa faktanya jauh dari harapan. Penguasaan dalam memahami sebuah materi yang belum tentunya belum tuntas, serta nilai ujian atau asesmen yang rendah, dan juga beberapa kompetensi yang harus dikuasai dikuasai masih menjadi PR bersama. 

Akan tetapi, saat rapor hasil belajar harus segera dicetak maka angka-angka tersebut berubah secara perlahan. Nilai yang awalnya jauh dari kata standar, tiba-tiba berubah jadi ”aman”. Siswa yang masih belum menguasai materi sepenuhnya dinyatakan tuntas. Dan semua terlihat baik-baik saja saat dicetak di atas kertas. 

Sebenarnya bukan karena guru memanipulasi angka. Pada banyak kasus, guru justru menghadapi tekanan dari berbagai arah. Ada target belajar yang harus tuntas, image sekolah yang harus dijaga, harapan orang tua, hingga kekhawatiran jika nilai yang rendah bisa menurunkan motivasi siswa. 
Pada akhirnya, harus ada berbagai penyesuaian. Dengan menambah nilai tugas, remedial berulang kali, keaktifan siswa dengan bobot yang lebih besar dan berbagai pertimbangan lainnya yang bersifat non akademis untuk bisa dimasukkan ke dalam perhitungan akhir.

Mungkin tujuannya baik, memberi kesempatan pada siswa untuk berkembang dan juga menghindari stigma kegagalan. Akan tetapi, saat penyesuaian tersebut terlalu jauh, rapor justru tidak lagi berfungsi sebagai alat untuk menilai kemampuan belajar siswa.

Lantas, apakah rapor masih menggambarkan nilai atau kondisi yang sebenarnya? Tapi masalahnya, bukan terlihat pada tinggi atau rendahnya nilai. Ketika angka tersebut tak lagi mencerminkan kenyataan. Saat siswa sudah merasa menguasai materi karena mereka melihat angka 8- padda rapor, padahal faktanya kemampuannya masih di level 45.

Kemudian dari pada hal tersebut, berbagai kubu atau pihak mungkin merasa sangat diuntungkan.  Orang tua merasa bangga, siswa merasa senang, sekolah telah berhasil dan laporan ketuntasan belajar siswa memuaskan. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak selamanya nilai yang sebenarnya disembunyikan oleh angka yang tercatat pada rapor. 

Kesenjangan antara kemampuan siswa dan nilai biasanya akan terlihat ketika siswa sudah memasuki jenjang pendidikan yang berikutnya. Mareka harus berhadapan dengan materi yang lebih kompleks, tuntutan dalam berpikir lebih tinggi, hingga dunia kerja yang penuh tantangan yang tidak hanya menilai kemampuan seseorang dari angka rapor.  

Label Artikel

Komentar Pembaca

Diskusi Artikel

Bagikan tanggapan kamu tentang berita ini. Komentar dibuat ringkas, rapi, dan tetap nyaman dibaca di desktop maupun mobile.

0 komentar

Tulis Komentar

Aman

Email tidak ditampilkan ke publik. Komentar spam/promosi berlebihan dapat dihapus admin.

Daftar Komentar

0 masuk

Belum ada komentar.

Jadilah pembaca pertama yang memberi tanggapan pada berita ini.