Pandemi dan Retaknya Wibawa Guru di Ruang Kelas
Dulu, seorang guru merupakan sosok yang dihormati dan disegani. Tidak ada satupun murid yang berani melawan apalagi mengejek sosok guru saat di kelas. Nilai-nilai moral dan akhlak para siswa di zaman dulu memang masih tertanam kuat.
Suasana di kelas juga tampak kondusif, para siswa mendengarkan penjelasan guru dengan baik. Tidak ada yang berani bersenda gurau, apalagi melemparkan candaan kepada guru. Kewibawaan sosok guru sangat terlihat jelas.
Para siswa akan segan dan sungkan, saat bertemu guru di jam-jam istirahat pun akan langsung menyalami dan tunduk. Fenomena ini nampak sangat akrab dengan keseharian di sekolah-sekolah sebelum akhirnya masa pandemi.
Masa Pandemi dan Hilangnya Adab Murid Terhadap Guru
Sejak pandemi Covid-19 yang terjadi pada akhir 2019 dan awal 2020 lalu, hal ini ternyata berdampak pula bagi pola pikir anak. Pembelajaran daring tidak hanya membuat anak menjadi malas, melainkan juga kehilangan rasa hormat kepada guru.
Seolah interaksi sosial anak-anak di zaman pandemi menjadi kurang terhadap guru. Hal ini mengingat ketika pembelajaran dilakukan dadri rumah, maka orang tua memiliki peran lebih dominan terhadap pendidikan mereka.
Sementara itu, guru menjadi sulit berinteraksi secara langsung. Padahal peran guru sebelumnya sangat penting untuk membangun disiplin dan karakter anak-anak.
Hal ini terlihat saat sekolah kembali dilakukan secara tatap muka, banyak guru mengeluh terkait sikap siswa. Sebagian murid menjadi sulit diatur, mereka lebih mudah membantah, bahkan tidak sedikit siswa mempermalukan dan menyerang guru di media sosial.
Bahkan banyak kasus, murid merekam guru saat prosess belajar mengajar. Tidak sampai di situ saja, mereka juga mengunggahnya ke media sosial. Sayangnya, guru seakan tidak memiliki keberanian untuk menegur murid dan lebih memilih diam.
Hal ini lantaran tidak sekali dua kali kejadian guru yang akhirnya harus bermasalah dengan hukum, lantaran orang tua murid tidak terima anaknya ditegur dan melaporkan guru ke pihak yang berwajib.
Pendidikan Perlu Keseimbangan
Perlindungan untuk anak-anak di zaman modern memang sangat penting. Bahkan tindakan menghukum siswa melalui verbal maupun fisik sudah tidak lagi relevan dan tidak bisa dibenarkan.
Akan tetapi, hal ini memicu kekhawatiran bahwa dalam upaya mempertahankan hak anak harus mengorbankan kewibawaan sosok guru dalam mendidik. Padahal dalam Pendidikan memerlukan keseimbangan.
Dengan kata lain, murid merasa dihargai dan lebih aman, di sisi lain guru juga harus tetap dihormati.
”Guru tidak hanya berperan mengajar saja, tetapi juga membentuk sikap dan karakter anak,” ungkap salah seorang praktisi pendidikan di Jakarta.
”Jika guru takut untuk bertindak, sekolah sudah tidak lagi berfungsi sebagai media pembinaan disiplin dan moral untuk anak,” tambahnya.
Adanya masalah ini, para pengamat pendidikan menilai jika masalah ini tidak sepenuhnya harus dibebankan ke sekolah. Dalam arti lain, orang tua tetap memegang peran penting untuk membentuk sikap dan akhlak anak terhadap tenaga pendidiknya.
Label Artikel
Daftar Komentar
0 masukBelum ada komentar.
Jadilah pembaca pertama yang memberi tanggapan pada berita ini.